Jumat, 25 Mei 2012

Gagalnya tim Thomas dan Uber Indonesia ; Puncak kelam sejarah Bangsa


Lim Swi King, Rudi Hartono, dan Susi Susanti adalah nama-nama yang tak asing dalam dunia olahraga di tanah air. Mereka mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional atas prestasi gemilangnya sebagai jawara bulutangkis dunia. Taufik hidayat, duo Riki Subagja dan Marlev Mainaki serta Mia Audina menjadi Suksesor mereka untuk tetap menjaga nama besar Indonesia dalam dunia perhelatan besar bulutangkis dunia. Mereka meletakkan standar yang amat tinggi bagi penerusnya  yang kemudian akan lahir untuk melanjutkan tongkat prestasi Indonesia di kancah dunia melalui olahraga bulutangkis. Apakah kemudian standar ini dapat diteruskan? Apakah kemudan menjadi beban? Yang pasti seluruh bangsa Indonesia menaruh ekspektasi yang (kelewat) besar kepada nama – nama baru yang menjadi andalan Indonesia dalam olahraga ini.
Ya, bulutangkis adalah Simbol keperkasaan Indonesia di dunia, kita bahkan dapat menunjukkan superioritas kita dari negara-negara dengan tradisi bulutangkis besar seperti China, Belanda, ataupun Swedia. Namun apakah hari ini sejarah itu dapat dimaknai sebagai sebuah modal yang melecut pemain kita untuk d meneruskan kegemilangan era lama? Masih menjadi satu perdebatan panjang dan pastinya butuh pembuktian. Kita mungkin tak pernah berharap banyak indonesia menunjukkan taji di bidang sepakbola dalam ajang sekelas Piala Dunia, atau kita mungkin tak berfikir suatu hari Indonesia akan besar namanya melalui olahraga semacam basket. Tapi bulutangkis, sudah dianggap sebagai satu hal yang dapat menyatukan jiwa seluruh bangsa apalagi saat kita mendengar kumandang lagu Indonesia raya saat medali emas dikalungkan di leher para pemain.
Sungguh ironis, kita, bangsa Indonesia meletakkan harapan yang begitu besar pada olahraga ini sementara kita tak pernah berfikir bagaimana proses terbentuknya sebuah tim juara. Pernahkan wacana pembinaan dalam bidang olahraga ini dijadikan sebuah isu besar bangsa yang kemudian melecut semangat serta motivasi pemain dan seluruh masyarakat untuk membulatkan suatu tekad menjadi juara? Jelas, kita saat ini dihantui oleh sebuah sejarah besar yang kita sendiri tak sanggup mengulanginya. Kita maslah sibuk membahas suatu permasalahan yang harusnya ditanggungjawabi oleh orang-orang yang memakai pajak kita untuk plesirannya ke luar negeri, atau dipakai untuk membeli kursi impor dari Jerman yang kualitasnya tak lebih baik dari produk Sleman atau Tulungagung. Tenaga kita habis untuk menyaksikan suatu perang yang dimainkan oleh badut-badut yang hampir 23 jam sehari muncul wajahnya di layar flatron. Kita akan bertanya kecil, Pantaskah tim ini menjadi juara?
Saya tertarik membahas bulutangkis yang menjadi miniatur kedigdayaan sejarah bangsa yang besar ini, ya kita DULU adalah sebuah bangsa yang besar, disegani, dihormati, bahkan banyak bangsa serta negara lain memohon untuk dapat bekerjasama dengan kita. Saat itu kita punya marwah, citra, karakter, yang semuanya kuat, tapi itu DULU. Apakah saat ini bangsa kita mengkonsentrasikan dirinya pada penemuan jati diri? Identitasnya? Kita malah asyik menikmati suatu lingkaran setan kebohongan yang dibalut dalam jubah formal kekuasaan. Ya, kiita tak punya alat pengembali kejayaan kita. Kita menekankan diri pada usaha  penyelesaian masalah yang kita buat sendiri dan kita menggunakan kebohongan sebagai alat penyelesaian permasalahan itu, logikanya apakah permasalahan itu akan selesai. Jawabnya jelas, kita akan berada pada sebuah keterjebakan zaman, kita akan kembali ke dalam suatu lingkaran setan yang baru, dan permasalahan yang ada tidaklah selesai karena ia melahirkan permasalahan-permasalahan baru yang membuat kita pusing.
Pada akhirnya, yang muncul adalah rasa apatisme bangsa. Suatu bentuk ketidak pedulian yang diakibatkan oleh begitu banyaknya pengkhianatan-pengkhianatan serta kebohongan yang ada. Lantas bangsa ini menjadi suatu entitas yang pasif serta permisif terhadap segala permasalahan bangsa. Kasus Korupsi, kini bukan lagi merupakan Extraordinary Crime, karena seringnya ia terjadi maka muncul istilah yang lebih rasional ; Ordinary Extraordinary Crime. Kekalahan tim sepakbola Indonesia merupakan sebuah hal yang lazim dan dipandang biasa oleh masyarakat, malah kemenangan dalam suatu ajang atau kompetisi dianggap sebagai sebuah prestasi langka yang merupakan impian bagi masyarakat. Apakah kita lupa, kita terdiri dari 33 Provinsi, dengan luas hampir 8 kali Thailand, dan ada sekitar 600an suku di dalamnya. Dan jangan lupa kita punya lebih dari 250 juta rakyat yang mengidentifikasi diri sebagai sebuah bangsa yang sama, bangsa Indonesia.
Dengan modal itu, tak ada alasan menjadikan prestasi sebagai impian bangsa. Bangsa yang hari ini kehilangan identitasnya, yakni identitas yang selalu dibanggakan founding father kita Soekarno-Hatta untuk tidak pernah takut menghadapi semua lawan-lawannya di seluruh dunia. Identitas bangsa yang menjadikan kita negara paling heterogen di seluruh dunia, identitas bangsa yang membuat kita disegani oleh seluruh bangsa lain yang ada di dunia.
Menjadi pertanyaan besar bagi kita semua, siapa kita? Kemana identitas kita? Kemana identitas BANGSA INDONESIA?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar