Lim
Swi King, Rudi Hartono, dan Susi Susanti adalah nama-nama yang tak asing dalam
dunia olahraga di tanah air. Mereka mengharumkan nama Indonesia di kancah
internasional atas prestasi gemilangnya sebagai jawara bulutangkis dunia. Taufik
hidayat, duo Riki Subagja dan Marlev Mainaki serta Mia Audina menjadi Suksesor
mereka untuk tetap menjaga nama besar Indonesia dalam dunia perhelatan besar
bulutangkis dunia. Mereka meletakkan standar yang amat tinggi bagi
penerusnya yang kemudian akan lahir
untuk melanjutkan tongkat prestasi Indonesia di kancah dunia melalui olahraga
bulutangkis. Apakah kemudian standar ini dapat diteruskan? Apakah kemudan
menjadi beban? Yang pasti seluruh bangsa Indonesia menaruh ekspektasi yang
(kelewat) besar kepada nama – nama baru yang menjadi andalan Indonesia dalam
olahraga ini.
Ya,
bulutangkis adalah Simbol keperkasaan Indonesia di dunia, kita bahkan dapat
menunjukkan superioritas kita dari negara-negara dengan tradisi bulutangkis
besar seperti China, Belanda, ataupun Swedia. Namun apakah hari ini sejarah itu
dapat dimaknai sebagai sebuah modal yang melecut pemain kita untuk d meneruskan
kegemilangan era lama? Masih menjadi satu perdebatan panjang dan pastinya butuh
pembuktian. Kita mungkin tak pernah berharap banyak indonesia menunjukkan taji di
bidang sepakbola dalam ajang sekelas Piala Dunia, atau kita mungkin tak
berfikir suatu hari Indonesia akan besar namanya melalui olahraga semacam
basket. Tapi bulutangkis, sudah dianggap sebagai satu hal yang dapat menyatukan
jiwa seluruh bangsa apalagi saat kita mendengar kumandang lagu Indonesia raya
saat medali emas dikalungkan di leher para pemain.
Sungguh
ironis, kita, bangsa Indonesia meletakkan harapan yang begitu besar pada olahraga
ini sementara kita tak pernah berfikir bagaimana proses terbentuknya sebuah tim
juara. Pernahkan wacana pembinaan dalam bidang olahraga ini dijadikan sebuah
isu besar bangsa yang kemudian melecut semangat serta motivasi pemain dan
seluruh masyarakat untuk membulatkan suatu tekad menjadi juara? Jelas, kita
saat ini dihantui oleh sebuah sejarah besar yang kita sendiri tak sanggup
mengulanginya. Kita maslah sibuk membahas suatu permasalahan yang harusnya
ditanggungjawabi oleh orang-orang yang memakai pajak kita untuk plesirannya ke
luar negeri, atau dipakai untuk membeli kursi impor dari Jerman yang
kualitasnya tak lebih baik dari produk Sleman atau Tulungagung. Tenaga kita
habis untuk menyaksikan suatu perang yang dimainkan oleh badut-badut yang hampir
23 jam sehari muncul wajahnya di layar flatron. Kita akan bertanya kecil, Pantaskah
tim ini menjadi juara?
Saya
tertarik membahas bulutangkis yang menjadi miniatur kedigdayaan sejarah bangsa
yang besar ini, ya kita DULU adalah sebuah bangsa yang besar, disegani,
dihormati, bahkan banyak bangsa serta negara lain memohon untuk dapat
bekerjasama dengan kita. Saat itu kita punya marwah, citra, karakter, yang
semuanya kuat, tapi itu DULU. Apakah saat ini bangsa kita mengkonsentrasikan
dirinya pada penemuan jati diri? Identitasnya? Kita malah asyik menikmati suatu
lingkaran setan kebohongan yang dibalut dalam jubah formal kekuasaan. Ya, kiita
tak punya alat pengembali kejayaan kita. Kita menekankan diri pada usaha penyelesaian masalah yang kita buat sendiri
dan kita menggunakan kebohongan sebagai alat penyelesaian permasalahan itu,
logikanya apakah permasalahan itu akan selesai. Jawabnya jelas, kita akan berada
pada sebuah keterjebakan zaman, kita akan kembali ke dalam suatu lingkaran
setan yang baru, dan permasalahan yang ada tidaklah selesai karena ia melahirkan
permasalahan-permasalahan baru yang membuat kita pusing.
Pada
akhirnya, yang muncul adalah rasa apatisme bangsa. Suatu bentuk ketidak pedulian
yang diakibatkan oleh begitu banyaknya pengkhianatan-pengkhianatan serta
kebohongan yang ada. Lantas bangsa ini menjadi suatu entitas yang pasif serta
permisif terhadap segala permasalahan bangsa. Kasus Korupsi, kini bukan lagi
merupakan Extraordinary Crime, karena
seringnya ia terjadi maka muncul istilah yang lebih rasional ; Ordinary Extraordinary Crime. Kekalahan
tim sepakbola Indonesia merupakan sebuah hal yang lazim dan dipandang biasa
oleh masyarakat, malah kemenangan dalam suatu ajang atau kompetisi dianggap
sebagai sebuah prestasi langka yang merupakan impian bagi masyarakat. Apakah kita
lupa, kita terdiri dari 33 Provinsi, dengan luas hampir 8 kali Thailand, dan
ada sekitar 600an suku di dalamnya. Dan jangan lupa kita punya lebih dari 250
juta rakyat yang mengidentifikasi diri sebagai sebuah bangsa yang sama, bangsa
Indonesia.
Dengan
modal itu, tak ada alasan menjadikan prestasi sebagai impian bangsa. Bangsa yang
hari ini kehilangan identitasnya, yakni identitas yang selalu dibanggakan
founding father kita Soekarno-Hatta untuk tidak pernah takut menghadapi semua
lawan-lawannya di seluruh dunia. Identitas bangsa yang menjadikan kita negara
paling heterogen di seluruh dunia, identitas bangsa yang membuat kita disegani
oleh seluruh bangsa lain yang ada di dunia.
Menjadi
pertanyaan besar bagi kita semua, siapa kita? Kemana identitas kita? Kemana identitas
BANGSA INDONESIA?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar